ws3476w347w3

Resensi : Unboxing Tiongkok, Sugeng Rahardjo

 Latifa Fahrun. -
er7w3e547a2q36ywreywery

Oleh: Latifa Fahrun.

 

Unboxing Tiongkok, dari namanya saja, sudah jelas kalau buku ini membuka kebenaran tentang Tiongkok, bukan lagi mengupas isu isu yang tidak jelas. Karena di media sosial, banyak sekali berita - berita yang menuding Tiongkok punya agenda jelek terhadap Indonesia, hingga image Tiongkok di kalangan milenial Indonesia cukup buruk. Apalagi semenjak pandemic COVID – 19, banyak sekali prasangka – prasangka tidak berdasar yang bertebaran di media sosial Indonesia.

 

Tidak sebatas itu saja, bahkan di kalangan masyarakat luas sering kali dengan tanpa rasa bersalah, mengolok – olok Tiongkok. Contohnya beberapa waktu lalu adalah "Liburan Gratis ke Wuhan", gurauan yang tidak patut dan menceminkan rendahnya kualitas moral orang Indonesia. Sebaliknya dalam buku ini, dijelaskan bagaimana orang Tiongkok menggunakan media sosial. Dimana, media sosial tidak digunakan untuk menyebar hoax, justru digunakan secara maksimal untuk berbisnis. Bukan mencaci maki pemimpin, tapi menghormati setiap pemimpin.

 

Tidak hanya ketika menyangkut Tiongkok, tapi semua yang berbau bau Tiongkok juga imbasnya sering kali dijadikan masalah oleh orang Indonesia. Contohlah pengalaman saya sendiri yang mengambil jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan di Universitas Al Azhar Jakarta, sementara kampung saya di Padang, Sumatera Barat. Karena berita – berita yang tidak jelas ini, dan kesalah pahaman orang Padang terhadap Tiongkok yang sudah mendarah daging, keikut sertaan saya mengambil jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok sudah dianggap bahwa saya ini nantinya pro Tiongkok dan sudah di wanti wanti " kamu akan menjadi ateis". Tidak akan punya tuhan lagi. Ngerikan?

 

Saya juga engeri dengarnya, tapi gimana lagi, begitulah media sosial kita lebih didengar daripada literatur dan bacaan bacaan yang jelas kredibilitasnya. Sayangnya, buku soal Tiongkok yang isinya mengupas Tiongkok jaman sekarang relatif tidak ada. Jadi kontras, yang buat berita jelek soal Tiongkok kecepatan 100 km per detik. Sementara yang menulis objektif dan fair dari sudut keindonesiaan kita, malah tidak ada. Mana bukunya?!

 

Halaman :
Shares

Opini lainnya

Berita Terkini

Index
ed4358e3459e46956956