ws3476w347w3

Ayah dan Ibu Penyemangatku

 Raichel Amanda. Bru.Sembiring -
er7w3e547a2q36ywreywery

Oleh: Raichel Amanda. Bru.Sembiring

Seiring jalannya waktu tak terasa usiaku kini semangkin dewasa walau belum bisa memberikan yang terbaik kepada mereka berdua yaitu ayah dan ibuku, namun semangat ku belajar membuat mereka bangga, pastinya akan menjadi tanggung jawabku dalam ilmu yang kudapat. Ku ingin kedua orang tuaku disaat ia tak lagi mampu mencari nafkah disebabkan renta maka keberhasilanku nanti yang menjadi kekuatan mereka.

Kini aku duduk dibangku sekolah dasar yang tak lama lagi akan meneruskan ketingkat lanjutan pertama, maka sedikit demi sedikit aku tau apa yang dilakukan oleh ayahku tentang sumber penghasilannya dalam memberi nafkah keluarga. Memang tak jarang ayahku menampilkan raut wajah yang murung, meski terkadang ku dapat merasakan ada hal yang sering menjadi pemikirannya hingga ia sering bersikap sedikit aneh. Keanehan sikap yang ia tampakkan ini sangat mengajakku untuk mencoba menghiburnya dengan mengantarkan segelas kopi untuk mengisi waktunya beristirahat.

Ayahku memang orang yang kuat, walau ku tau dalam kesibukannya sebagai Pemburu berita (kerjanya) terkadang ia juga membagi waktunya untuk ikut berdagang yaitu usaha jual beli kenderaan bekas. Karena, kata ayah untuk bisa mencukupi kebutuhan kami harus bisa mencari tambahan dari yang sudah ada, aku percaya itu, karena ibuku tidak memiliki penghasilan tetap.

Aku anak tungggal dari ayah dan ibuku, hal ini membuatku harus lebih mandiri, karena ku tau pekerjaan rumah yang dilokoni ibuku juga sangat melelahkannya, mulai dari menjemputku sekolah sampai menyelesaaikan semua pekerjaan rumah. Untuk itu aku yang sebentar lagi akan melanjutkan jenjang pendidikan yang tentunya pasti menghabiskan banyak biaya, Janjiku, lebih mendisiplinkan diri dengan giat belajar dan rajin menabung. Karena apa, mengingat aku anak tunggal dari kedua orang tuaku maka dengan sangat tentu akulah harapan mereka.

Walaupun aku seorang anak perempuan yang terlahir menjadi anak dari ayah dan ibuku, namun, dengan melihat semangat ayahku dan ibuku dalam membesarkannku, tekat ku untuk menjadi anak yang berguna kelak semangkin kuat, dengan ungkapan ibuku yang sering melontarkan kata-kata "sulitnya hidup kalau kita tak mempunyai keahlian nak" disampaikan ibuku.

Ayahku juga sering memberiku arahan, ia tak menganggapku anak yang masih kecil lagi, katanya aku sudah bijak dan pandai "ucapan dalam candanya" namun dengan canda itu pula aku beranggapan bahwa ayahku memang sedikit menanamkan jiwa yang kuat terhadapku, disampaiakanya keseringan padaku agar teruslah belajar.

"Jangan sampai bermalas-malasan dan jangan lupa doakan ayah dan ibu dalam sholat mu," katanya.

Pernah ayah dan ibuku bertanya kepadaku tentang apa yang menjadi cita-citaku setelah dewasa nanti, Dengan tersenyum aku sampaikan pada mereka "mau jadi yang terbaik aja buat ayah dan ibu" mungkin ini jawapan anak yang masih seusiaku.

Melihat senyuman yang terlontar dari bibir kedua orang tuaku, tampak kebahagian dalam keluarga kami. Walau ku tau itu sangat menghiburku dengan mereka tau aku anak mereka semata wayang yang harus diberi kasih dan sayang sepenuhnya.

Halaman :
Shares

Opini lainnya

Berita Terkini

Index
ed4358e3459e46956956